Bekasi, 22 April 2026 — SMP Strada Bhakti Wiyata menggelar kegiatan Simulasi Tanggap Bencana Gempa Bumi bekerja sama dengan Basarnas dalam program “SAR Goes to School”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana, khususnya gempa bumi.

Kegiatan diawali dengan penyuluhan yang dibagi dalam beberapa sesi. Materi pertama berfokus pada pengenalan Basarnas, termasuk tugas dan peran dalam operasi pencarian dan pertolongan. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemahaman tentang konsep dasar kebencanaan gempa bumi, mulai dari penyebab, risiko, hingga langkah-langkah penyelamatan diri.

Penyuluhan berlangsung sejak pukul 07.15 hingga 10.45 WIB dengan menghadirkan narasumber dari Basarnas, yaitu Norma Pianto, Yuliani, S.Pd., M.Si, dan Anton Wijaya. Para narasumber menyampaikan materi secara interaktif sehingga siswa dapat memahami pentingnya kesiapsiagaan bencana secara praktis dan aplikatif. Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan briefing khusus untuk para guru guna menyamakan persepsi dan peran saat simulasi berlangsung.

Puncak kegiatan adalah simulasi tanggap darurat yang dimulai pukul 11.00 WIB. Simulasi diawali dengan bunyi sirine sebagai tanda terjadinya gempa. Guru segera menginstruksikan siswa untuk berlindung di tempat yang aman sesuai prosedur. Setelah situasi dinyatakan aman, siswa diarahkan untuk bersiap menuju titik kumpul dengan tertib.

Prosedur yang Harus Dilakukan Siswa Saat Terjadi Gempa:

  1. Tetap tenang dan tidak panik saat merasakan getaran.
  2. Segera melakukan prinsip Drop, Cover, and Hold On (menunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan berpegangan).
  3. Menjauhi kaca, lemari, atau benda yang berpotensi jatuh.
  4. Tidak berlari keluar kelas saat gempa masih berlangsung.
  5. Setelah getaran berhenti, mengikuti instruksi guru untuk evakuasi.
  6. Keluar kelas secara tertib melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan.
  7. Tidak kembali mengambil barang yang tertinggal di dalam kelas.
  8. Menuju titik kumpul dengan cepat namun tetap teratur.
  9. Berkumpul sesuai kelas masing-masing untuk memudahkan pengecekan.
  10. Menunggu instruksi lebih lanjut dari guru atau petugas.

Proses evakuasi dilakukan secara sistematis melalui jalur yang telah ditentukan. Guru berperan aktif dalam mengawasi dan memastikan seluruh siswa bergerak dengan aman. Setibanya di titik kumpul, dilakukan pengecekan kehadiran dan kondisi siswa untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Untuk mendukung kegiatan ini, sekolah juga telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana seperti aula kelas, proyektor, sistem suara, sirine darurat, speaker di setiap kelas, jalur evakuasi, serta titik kumpul yang jelas dan terstruktur.

Kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk membentuk budaya sadar bencana sejak dini. “Melalui simulasi ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh warga sekolah tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bertindak cepat dan tepat saat terjadi keadaan darurat,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan siswa dan guru memiliki kesiapan mental serta keterampilan praktis dalam menghadapi bencana, sejalan dengan prinsip Safety First yang menjadi prioritas utama dalam lingkungan pendidikan. (REBL, DFA)

Foto Kegiatan :

 

Sebarkan artikel ini